Ketentuan Zakat Harta (Mal) Dan Zakat Fitrah

Posted on
 yang masuk rukun Islam adalah mengeluarkan Zakat KETENTUAN ZAKAT HARTA (MAL) DAN ZAKAT FITRAH


Ketentuan Zakat Harta (Mal) dan Zakat Fitrah. Salah satu keharusan umat Islam yang masuk rukun Islam adalah mengeluarkan Zakat. Lalu seperti apa Ketentuan wacana Zakat Harta (Mal) dan Zakat Fitrah. Berikut klarifikasi singkatnya, gampang-mudahan tidak keliru.

A. Zakat Mal
1. Pengertian

Zakat mal yaitu zakat harta yang dimiliki oleh seseorang alasannya adalah telah hingga nisabnya atau batas seseorang mesti mengeluarkan zakat.

Adapun hukumnya zakat mal yaitu “fardu a’in” atas setiap yang memenuhi syarat-syaratnya.

Firman Allah SWT yang bekerjasama dengan wajib zakat mal dalam Al-qur’an surat At-taubah : 103  Artinya ;    “ Ambilah dari harta mereka sedekah (zakat) untuk membersihkan mereka dan menghapuskan kesalahan mereka……” (Q.S. At-taubah, 9 : 103 )
   2.   Syarat-syarat wajib Zakat Mal

a.  Islam

b.  Merdeka (bukan budak)

c.  Hak milik tepat

d.  Mencapai nisab

e.  Masa memiliki hingga satu tahun, kecuali flora dan buah-buahan


3. Harta yang wajib di Zakati dan nisabnya

No
Jenis
Nishab/haul
Kadar Zakat
1
Emas
98,6 gram haulnya 1 (satu) tahun
2,5 %
2
Perak
624 gram = 15,6 %
2,5 %
3
Hasil Pertanian atau Perkebunan
930 liter bersih dari mutu
10% jikalau pengairan tanpa ongkos.
5% jikalau pengairan dengan ongkos
4
Rikaz (harta terpendam)
1/5 tidak perlu menungu 1 tahun
20%
5
Hasil Tambang
Seharga Emas
2,5%
6
Kambing
40 – 120 ekor

121 – 200 ekor

201 – 399 ekor

Selanjutnya setiap ekor bertambah 100 ekor
1 ekor kambing umur 2 tahun atau lebih
2 ekor kambing umur 2 tahun atau lebih
3 ekor kambing umur 2 tahun atau lebih
1 ekor kambing umur 2 tahun atau lebih
7
Kerbau
30 – 39 ekor
40 – 59 ekor
60 – 69 ekor
70 – 79 ekor
1 ekor kerbau umur 1 tahun
1 ekor kerbau umur 2 tahun
2 ekor kerbau umur 1 tahun
2 ekor kerbau umur 2 tahun

Bagaimana dengan zakat harta berupa gaji. Sepertinya kita lazimmemahami dengan membaca penjelasan yang ada dalam Kitab Al-Fatawa Asy-Syarâ selaku berikut:


Barangsiapa mempunyai uang yang sudah meraih nishabnya, kemudian dalam waktu lain kembali menemukan duit yang tidak terkait sama sekali dengan duit pertama tadi, mirip uang simpanan dari honor bulanan, harta warisan, hadiah, uang hasil penyewaan rumah dan yang lain, jika dia sungguh-sungguh ingin mengkalkulasikan dengan teliti haknya dan tidak menyerahkan zakat kepada yang berhak kecuali sejumlah harta yang betul-betul wajib dikeluarkan zakatnya, maka hendaklah dia menciptakan pembukuan hasil usahanya. Ia hitung jumlah duit yang dimiliki untuk menetapkan haul dimulai sejak pertama kali ia memiliki duit itu. Lalu dia keluarkan zakat dari harta yang sudah ditetapkannya itu kalau sudah genap satu haul.

Jika ingin cara yang lebih mudah, lebih menentukan cara yang lebih sosial dan lebih memprioritaskan fakir miskin dan kalangan yang berhak mendapatkan zakat yang lain, maka ia boleh mengeluarkan zakat dari seluruh duit yang sudah mencapai nishab dari yang dimilikinya setiap kali sudah genap satu haul. Dengan begitu pahala yang diterimanyaa lebih besar, lebih mengangkat derajatnya dan lebih gampang dilakukan serta lebih mempertahankan hak-hak fakir miskin dan seluruh kelompok yang berhak mendapatkan zakat.

Hendaklah jumlah yang berlebih dari zakat yang wajib dibayarnya diniatkan untuk berbuat baik, selaku istilah rasa syukurnya terhadap Allah atas lezat-nikmatNya dan anugrahNya yang berlimpah. Dan mengharap agar Allah memperbesar karuniaNya itu bagi dirinya. Sebagaimana firman Allah.

Artinya : Jika kau bersyukur maka Aku akan tambah nikmatKu bagi kamu [Ibrahim : 7]

4.   Orang yang berhak menerima zakat (mustahik)

1)      Fakir, yaitu orang yang tidak memiliki harta

2)      Miskin, yakni orang yang mempunyai pekerjaan namun tidak bisa mencukupi kebutuhab hidup

3)      Amil, orang yang diberi tugas untuk menghimpun dan membagikan zakat

4)      Mualaf, adalah orang yang baru memeluk agama islam

5)      Riqab, adalah orang yang dijanjikan oleh tuannya untuk dimerdekakan

6)      Garim, yaitu orang yang memiliki batang hutang

7)      Sabililah, adalah orang yang berjualan dijalan Allah

8)      Ibnu Sabil, adalah orang yang mengalami kesusahan dalam perjalanan


5. Manfaat Zakat dalam kehidupan

1)      Menolong orang yang lemah

2)      Membersihkan diri

3)      Ungkapkan rasa syukur

4)      Menanamkan sikap pemurah dan menetralisir sifat kikir

B. Zakat Fitrah

1. Pengertian
Zakat fitrah ialah zakat diri yang dikeluarkan oleh setiap muslim yang hidup berupa kuliner pokok yang mengenyangkan sebanyak 2,5 Kg atau 3,1 liter. Jika diuangkan seharga 2,5 KG atau 3,1 beras. (Mengacu pada beras atau harga beras yang umum dimakan sehari-hari)
Zakat berdasarkan bahasa artinya : higienis, tumbuh dan terpuji. Menurut ungkapan (para jago fiqih) zakat yakni kadar harta tertentu yang diberikan kepada para mustahiq (yang berhak) menerimanya dengan beberapa syarat.
Zakat fitrah dikeluarkan oleh setiap umat muslim yang hidup pada sebagian bulan puasa dan sebagian bulan syawal.

2. Hukum

Hukum zakat fitrah adalah wajib bagi setiap umat islam, laki-laki atau perempuan, besar kecil, merdeka atau hamba. Sebagaimana firman Allah SWT “dirikanlah sholat dan tunaikan zakat “Q.S. An-nisa : 77)


3.   Syarat-syarat wajib

a.  Islam

b.  Lahir sebelum terbenam matahari pada hari penghabisan bulan puasa

c.  Mempunyai kelebihan harta


4.  Waktu zakat fitrah

a.  Waktu yang dibolehkan, ialah dari awal ramadhan sampai hari penghabisan Ramadhan

b  Waktu wajib, yaitu terbenam matahari penghabisan Ramadhan

c.  Waktu yang lebih baik (sunah), adalah dibayar sesuadah shalat subuh sebelum pergo shalat hari raya

d.  Waktu makruh, adalah mengeluarkan uang zakat fitrah setelah shalat hari raya namun sebelum terbenam matahari pada hari raya

e.  Waktu haram, lebih telat lagi ialah dibayar sehabis terbenam matahari pada hari raya.


5.   Manfaat Zakat Fitrah

a  Membuat senang orang-orang yang sukar dan lemah ekonominya pada hari raya

b.  Membersihkan diri dari perilaku egois atau mementingkan diri sendiri. Sesuai dengan hadits Nabi SAW, selaku berikut : Zakat itu selaku pembersih dari tindakan sia-sia dan omongan-omongan yang kotor dari orang-orang yang berpuasa dan sebagai kuliner bagi orang-orang miskin. Barang siapa yang menunaikannya setelah lebaran maka hanyalah sedekah biasa. (H.R. Abu Daud dan Ibnu Majah)





= Baca Juga =

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *